SEA Games 2025 kembali diterpa kritik setelah terjadi blunder fatal terkait pemasangan bendera negara peserta dalam pengumuman jadwal pertandingan sepak bola wanita. Kesalahan tersebut menimbulkan kehebohan di kalangan publik Asia Tenggara, terutama setelah grafik yang salah itu diunggah di halaman resmi SEA Games ke-33 yang seharusnya menjadi sumber informasi akurat.
Insiden memalukan ini pertama kali diungkap oleh media Thailand, Mathicon. Dalam laporan mereka, disebutkan bahwa panitia salah memasang bendera Indonesia dan Thailand pada jadwal pertandingan Timnas Putri Indonesia kontra Thailand. Alih-alih memasang bendera Merah Putih, grafik resmi justru menampilkan bendera Laos. Sementara bendera Thailand berubah menjadi bendera Vietnam.
Kesalahan tersebut muncul pada grafik resmi jadwal pertandingan yang dijadwalkan berlangsung pada 4 Desember 2025 pukul 18.30 WIB di Stadion Chonburi. Kejadian ini langsung membuat para reporter, atlet, dan penggemar olahraga di Thailand dan Indonesia kebingungan karena identitas negara yang tercantum tidak sesuai fakta.
Mathicon menulis bahwa halaman resmi SEA Games ke-33 seharusnya menjadi pusat informasi terpercaya. Namun grafik yang mereka tayangkan justru menampilkan bendera yang keliru pada wajah tim Thailand dan Indonesia. Tidak butuh waktu lama sampai publik mengkritik keras pihak yang bertanggung jawab atas blunder tersebut.
Banyak yang menyayangkan bahwa panitia yang menerima bayaran besar bisa melakukan kesalahan mendasar bahkan sebelum pertandingan dimulai. Kritik membanjir di media sosial dan forum olahraga, menyoroti kurangnya profesionalitas panitia dalam penyelenggaraan ajang olahraga tingkat Asia Tenggara ini.
Kesalahan seperti ini dianggap merusak citra resmi SEA Games dan menunjukkan kurangnya pengawasan dalam proses publikasi informasi.
Masalah Bendera Indonesia Bukan Pertama Kali Terjadi
Kesalahan pemasangan bendera bukan hal baru bagi Indonesia dalam ajang SEA Games. Dua insiden sebelumnya juga pernah terjadi dan menjadi sorotan internasional.
Pada SEA Games 2017 di Malaysia, bendera Indonesia dicetak terbalik dalam buku panduan resmi yang dibagikan kepada pejabat undangan. Bendera yang seharusnya merah putih dicetak menjadi putih merah. Kesalahan ini memicu protes dari Menpora Imam Nahrawi. Ia menegaskan bahwa kejadian tersebut menodai acara besar dan pemerintah Indonesia menuntut permintaan maaf resmi dari Malaysia.
Insiden serupa kembali terulang saat SEA Games 2023 di Kamboja. Dalam pre-show opening ceremony, bendera Indonesia kembali tampil terbalik ketika disiarkan melalui akun YouTube resmi Press Office of The Council of Ministers Cambodia. NOC Indonesia langsung mengirimkan surat keberatan resmi melalui Plt Sekretaris Jenderal Harry Warganegara.
Dalam surat bernomor 5.5.2/NOC-INA/SET/2023, NOC Indonesia menegaskan bahwa penempatan bendera yang terbalik tidak dapat diterima. Indonesia telah memberikan panduan pemasangan yang benar sebelumnya dan berharap tuan rumah memperbaiki kesalahan tersebut sebelum upacara pembukaan resmi berlangsung.
Pihak CAMSOC akhirnya menyampaikan permintaan maaf dan melakukan perbaikan agar kesalahan tidak kembali terjadi pada seremoni pembukaan SEA Games 2023.
Pentingnya Profesionalitas dalam Multi Event Internasional
Rangkaian kejadian yang melibatkan kesalahan pemasangan bendera menegaskan pentingnya profesionalitas dan ketelitian panitia dalam mengelola event internasional. Identitas negara peserta adalah unsur sensitif dan sangat dihormati dalam kompetisi olahraga antarbangsa. Kesalahan kecil seperti pemasangan bendera yang salah atau terbalik bisa berdampak besar pada citra penyelenggara.
SEA Games 2025 seharusnya menjadi ajang kebanggaan bagi seluruh negara kawasan. Namun blunder di tahap awal ini menunjukkan masih adanya kekurangan dalam standar kerja dan pengawasan informasi resmi. Banyak pihak berharap panitia segera melakukan evaluasi mendalam agar insiden serupa tidak kembali mencoreng jalannya kompetisi.
Dengan sorotan publik yang semakin besar, panitia SEA Games 2025 diharapkan dapat meningkatkan ketelitian dan profesionalisme, terutama dalam penayangan informasi yang disebarkan melalui platform resmi. Publik Asia Tenggara menantikan turnamen yang berlangsung lancar, akurat, dan penuh sportivitas.