Pelatih Como 1907, Cesc Fabregas, mengaku puas dengan perkembangan penyerang andalannya, Anastasios Douvikas, sepanjang musim 2025-2026.
Striker asal Yunani tersebut didatangkan Como pada bursa transfer musim dingin 2025 atau Februari lalu dari Celta Vigo dengan nilai transfer sekitar 12 juta euro. Sebelumnya, Douvikas sempat mencuri perhatian saat membela FC Utrecht selama dua musim di Liga Belanda.
Puncak performa Douvikas terjadi pada musim 2022-2023, ketika ia mencetak 19 gol dan keluar sebagai top skor Eredivisie. Prestasi itu membuatnya menjadi pemain pertama Utrecht yang meraih gelar pencetak gol terbanyak di era modern Liga Belanda.
Adaptasi Awal yang Tak Mudah
Meski datang dengan reputasi mentereng, Douvikas tidak langsung tampil tajam pada musim 2024-2025. Ia hanya mampu mencetak dua gol dari 13 penampilan di Liga Italia.
Minimnya kontribusi tersebut tak lepas dari proses adaptasi, mengingat Douvikas bergabung di tengah musim dan harus menyesuaikan diri dengan gaya bermain Serie A yang lebih taktis dan ketat.
Mulai Menemukan Bentuk Terbaik
Memasuki musim 2025-2026, performa Douvikas menunjukkan peningkatan signifikan. Hingga paruh musim, striker berusia 26 tahun itu telah mengoleksi sembilan gol dari 20 pertandingan di semua kompetisi.
Dua gol terbarunya tercipta saat Como menghadapi SC Pisa dalam lanjutan Liga Italia. Douvikas mencetak brace dan berperan besar dalam kemenangan 3-0 atas tim promosi tersebut.
Dengan postur setinggi 186 sentimeter, Douvikas kini semakin efektif sebagai target man. Pergerakannya di kotak penalti terlihat lebih matang dan konsisten dibanding musim sebelumnya.
Penilaian Positif dari Fabregas
Performa tersebut membuat Cesc Fabregas memberikan penilaian positif terhadap anak asuhnya. Hal itu disampaikan Fabregas dalam konferensi pers jelang laga Como melawan Bologna, Sabtu (10/1/2026).
“Ketika kami mencari striker, ada tiga profil, dan kami memilih Tasos karena dia selalu mencetak gol di mana pun dia bermain,” ujar Fabregas, dikutip dari Tutto Como.
“Di Spanyol dia bermain dengan cara berbeda. Dia kuat, pintar menyerang ruang kosong, dan masih punya banyak ruang untuk berkembang,” lanjutnya.
Fabregas menilai gol-gol yang dicetak Douvikas menunjukkan naluri khas seorang penyerang murni.
“Dia tahu bagaimana membaca kesulitan bek, tahu kapan harus masuk ke kotak penalti dan kapan harus bergerak maju,” jelas Fabregas.
Pelatih asal Spanyol itu juga mengakui bahwa aspek permainan Douvikas sempat menjadi tantangan di awal.
“Pada awalnya, masalahnya adalah permainannya. Tapi itu sesuatu yang terus kami kerjakan,” katanya.
“Striker level atas selalu tahu apa yang harus dilakukan saat bola datang. Melawan tim yang bertahan dalam, dia harus menemukan momen yang tepat.”
Fabregas menutup dengan pujian terhadap etos kerja sang pemain.
“Kami sangat senang dengannya. Dia adalah contoh pemain yang berkembang melalui kerja keras setiap hari.”